Puluhan ribu pekerja migran eksodus dari ibu kota Bangladesh, Dhaka, pada Minggu (27/6), beberapa jam sebelum lockdown diberlakukan di negara Asia Selatan ini. Lockdown kali ini membatasi sebagian besar kegiatan ekonomi dan mengurung warga Bangladesh di rumah ketika kasus Covid 19 melonjak. Pemberlakuan pembatasan ketat ini memicu eksodus dari ibu kota Dhaka.

Meski transportasi telah dihentikan sejak 22 Juni lalu, masyarakat berusaha keluar dari ibu kota menuju desa mereka dengan menggunakan kendaraan roda tiga, sepeda motor, bahkan menyewa ambulans. Operasi transportasi air telah meningkat, dengan beberapa layanan beroperasi 24 jam sehari dan mengangkut lebih dari 1.000 penumpang dalam setiap perjalanan. "Kami tidak ingin mereka memadati feri. Tapi mereka tidak mendengarkan," kata sub inspektur polisi Mohammad Reza.

Calon penumpang memadati terminal feri. Tanpa mengindahkan protocol kesehatan menjaga jarak, mereka berdesak desakan menunggu feri dating. Seorang pejabat senior di Bangladesh Inland Water Transport Corporation yang dikelola negara mengatakan setidaknya 50.000 orang telah menyeberangi sungai dengan feri pada hari Minggu (27/6) saja.

Di sebuah stasiun sungai di kota pedesaan Srinagar, sekitar 70 km selatan Dhaka, ribuan orang mengantre sejak Minggu pagi untuk menyeberangi Padma, anak sungai Himalaya, Sungai Gangga. "Kami tidak punya pilihan selain meninggalkan kota," kata Fatema Begum (60), sambil menunggu feri. "Selama lockdown, tidak ada pekerjaan. Dan jika kami tidak bekerja, bagaimana kami membayar sewa? Jadi kami mengemasi semuanya dan kembali ke desa kami,” katanya.

Mohammad Masum (30), seorang pedagang kaki lima di Dhaka, mengatakan lebih baik pulang ke rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga daripada dikurung di ibu kota. Editor BBC Asia Selatan Jill McGivering melaporkan bahwa pekerja berpenghasilan rendah dan pekerja harian akan menjadi salah satu yang paling terpukul oleh lockdown ketat ini. Sebelumnya pembatasan aktivitas dan pergerakan telah diberlakukan sejak pertengahan April karena kasus dan kematian melonjak.

Penularan Covid 19 sempat menurun pada Mei tetapi mulai meningkat lagi bulan Juni ini. Lockdown dilakukan setelah kasus Covid 19 di negara itu melonjak tajam, banyak yang terkait dengan varian Delta yang pertama kali diidentifikasi di negara tetangga India. Gelombang virus terbaru di Bangladesh dimulai sekitar enam minggu lalu.

Pada 15 Mei, ada 261 kasus baru dan 22 kematian yang dilaporkan. Namun pada Jumat (25/6), ada 5.869 kasus baru dan 108 kematian. Jumlah kematian ini adalah kematian harian tertinggi kedua di negara itu selama pandemic Covid 19.

Dan Kementerian Kesehatan Bangladesh menyebutkan, lebih dari 5.000 kasus baru dan 119 kematian pada hari Minggu kemarin. Banyak rumah sakit kewalahan menampung dan mencoba menyelamatkan pasien, terutama rumah sakit yang berada di perbatasan dengan India. Peningkatan kasus ini mendorong pemerintah untuk memperketat pembatasan secara bertahap mulai Senin (28/6), dengan kegiatan ekonomi termasuk toko, pasar, transportasi dan kantor ditutup pada Kamis (1/7).

Masyarakat diperintahkan tinggal di rumah, sementara hanya layanan darurat dan pabrik berorientasi ekspor yang terus beroperasi. Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Informasi Pers Bangladesh (PID) mengatakan semua kantor, termasuk kantor pemerintah, semi pemerintah dan swasta, juga akan ditutup. Juru bicara departemen kesehatan Robed Amin mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa polisi dan penjaga perbatasan akan dikerahkan untuk menegakkan penguncian dan menghentikan orang meninggalkan rumah mereka.

Dia menambahkan bahwa tentara juga dapat dikerahkan jika diperlukan. "Ini adalah situasi yang berbahaya dan mengkhawatirkan," katanya. "Jika kita tidak menahannya sekarang, kita akan menghadapi situasi seperti India,” katanya.

Bangladesh telah mencatat lebih dari 880.000 kasus Covid 19 dan lebih dari 14.000 kematian akibat virus. Tapi para ahli mengatakan jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena kemungkinan banyak tidak dilaporkan. Sementara itu, Malaysia akan memperpanjang lockdown atau penguncian nasional untuk menekan penyebaran Covid 19.

Hal itu disampaikan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin, seperti dilansir dari kantor berita Malaysia, Bernama dan Channel News Asia (CNA), Minggu (27/6/2021). Seharusnya langkah langkah penguncian ditetapkan akan berakhir, Senin (28/6/2021). Tidak diketahui sampai kapan perpanjangan lockdown dilakukan pemerintah Malaysia.

Muhyiddin hanya mengatakan mereka tidak akan menghentikan lockdown sampai kasus harian turun di bawah 4.000. Dilaporkan, kasus Covid 19 di Malaysia bertambah 5.803, Sabtu (26/6/2021). Pada Mei 2021, perintah kontrol gerakan nasional (MCO) diberlakukan kembali di Malaysia di tengah gelombang ketiga kasus Covid 19.

Dikenal sebagai MCO 3.0, semua sektor ekonomi diizinkan beroperasi selama periode tersebut tetapi perjalanan lintas daerah dan antarnegara serta kegiatan sosial, olahraga, dan pendidikan dilarang. Pembatasan yang lebih ketat pada sektor ekonomi dan sosial kemudian diumumkan pada 21 Mei karena kasus positif Covid 19 di masyarakat terus meningkat. Pada 11 Juni, Menteri Senior Pertahanan Ismail Sabri Yaakob mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa MCO yang seharusnya akan berakhir pada 14 Juni akan diperpanjang hingga 28 Juni.

Dia mengatakan Kementerian Kesehatan telah menyampaikan laporannya dan mengusulkan kepada Dewan Keamanan Nasional (NSC) yang diketuai Perdana Menteri agar lockdown diperpanjang. Ia mengatakan jumlah kasus Covid 19 masih di atas 5.000 setiap harinya, dengan rata rata kasus baru berada pada angka 6.871, Kamis (10/6/2021). "Karena itu, lockdown akan diperpanjang selama dua minggu lagi, berlaku mulai 15 hingga 28 Juni," katanya dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya Direktur jenderal kesehatan Noor Hisham Abdullah pada Sabtu menegaskan kembali bahwa Malaysia mungkin akan mencapait hingga 13.000 kasus baru Covid 19 dalam 24 jam pada pertengahan Juni, jika langkah langkah protokol kesehatan dan pencegahan tidak diikuti. Permukaan air Sungai Gangga India naik seiring hujan yang mengguyur. Akibatnya, ratusan mayat diduga jenazah pasien Covid 19 bermunculan di sana.

Mayat mayat itu bermunculan setelah pasir di tepian sungai Gangga hanyut terbawa arus. Di kota Prayagraj, negara bagian Uttar Pradesh, misalnya mayat mayat yang bermunculan itu kemudian dikremasi. Neeraj Kumar Singh pejabat sipil setempat mengatakan, dia mengkremasi 40 mayat seperti itu dalam 24 jam terakhir, dikutip dari NDTV pada Kamis (24/6/2021).

Kemudian di kota Allahabad dalam tiga minggu terakhir total ada 150 jenazah yang harus dia kremasi. "Kami tidak menggali jenazah, hanya yang mengambang karena naiknya permukaan air yang dikremasi," katanya dikutip dari AFP, Sabtu (26/6/2021). "Area itu tersebar lebih dari satu kilometer dan perkiraan kami ada sekitar 500 600 mayat yang terkubur," kata Singh kepada AFP.

Beberapa mayat dilaporkan tampak masih memakai selang oksigen di mulutnya. Singh menduga, tampaknya orang tersebut sakit sebelum meninggal. "Anda dapat melihat orang itu sakit, dan keluarga membuangnya di sini lalu pergi.

Mungkin mereka takut, saya tidak tahu," kata Singh. Tidak semua mayat membusuk. Kondisi beberapa di antaranya mengindikasikan baru dikubur, tambahnya.

Sebagian besar jenazah diyakini adalah pasien virus corona yang meninggal pada April dan Mei ketika India dilanda lonjakan kasus Covid 19. Beberapa keluarga tidak mampu membeli kayu bakar untuk kremasi tradisional Hindu, sehingga jenazah dibenamkan di Sungai Gangga atau dikubur di gundukan pasir tepi sungai. Permukaan air sungai suci itu sekarang naik karena hujan musiman, yang menghanyutkan pasir sehingga mayat mayat pun terlihat.

Banyaknya jenazah yang bermunculan memicu kecurigaan bahwa total kematian pasien Covid 19 di India mungkin lebih dari satu juta, beberapa kali lipat dari jumlah resmi yang hampir 400.000. Lonjakan Covid 19 terjadi di Indonesia, berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid 19 pada Minggu (27/6/2021), terdapat penambahan pasien positif sebanyak 21.342 orang. Ini merupakan rekor penambahan pasien Covid 19 tertinggi dalam sehari, selama pandemi berlangsung.

Dengan demikian, jumlah pasien Covid 19 di Indonesia kini mencapai 2.115.304 orang, terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret tahun lalu. Informasi ini disampaikan Satgas Covid 19 melalui data yang diterima wartawan pada Minggu sore. Data yang sama juga menunjukkan penambahan pasien sembuh sebanyak 8.024 orang. Sehingga, jumlah pasien yang sembuh dari Covid 19 kini berjumlah 1.850.481 orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.